<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965</id><updated>2011-09-17T05:42:08.692-07:00</updated><title type='text'>_ short story _</title><subtitle type='html'>welcome to _short story_!
selamat membaca ^.^</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-9096193955530307109</id><published>2011-09-17T05:26:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T05:26:45.661-07:00</updated><title type='text'>Penyesalan (hadiah sang Ayah)</title><content type='html'>Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda,sebentar lagi dia akan   menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun   di bangku pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu dia  melewati sebuah showroom, dan saat itu dia  jatuh cinta kepada sebuah  mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.  Selama beberapa bulan dia  selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda  ayahnya pasti akan  membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia  anak satu-  satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget   nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan   mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan  semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya  pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke  ayahnya.  Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena  terharu dia  mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia  mencintai  anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,...  bukan  sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak menerima  bingkisan  itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik  kertas kado  itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit  asli,  dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.  Pemuda itu menjadi marah,  dengan suara yang meninggi dia berteriak,  "Yaahh... Ayah memang sangat  mencintai saya, dengan semua uang ayah,  ayah belikan alkitab ini untukku  ? " Lalu dia membanting Kitab Suci itu  dan lari meninggalkan ayahnya.  Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa,  hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton  beribu pasang mata yang  hadir saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah  menjadi seorang yang sukses,  dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang  dia berhasil menjadi seorang  yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang  besar dan mewah, dan  dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang  cerdas. Sementara itu  ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak  hari wisuda itu, anaknya  pergi meninggalkan dia dan tak pernah  menghubungi dia. Dia berharap  suatu saat dapat bertemu anaknya itu,  hanya untuk meyakinkan dia betapa  kasihnya pada anak itu. Sang anak pun  kadang rindu dan ingin bertemu  dengan sang ayah, tapi mengingat apa  yang terjadi pada hari wisudanya,  dia menjadi sakit hati dan sangat  mendendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari  kantor kejaksaan yang  memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan  sebelum ayahnya  meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak  satu-satunya itu.  Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan  bersama-sama ke rumah  ayahnya untuk mengurus semua harta  peninggalannya. Saat melangkah masuk  ke rumah itu, mendadak hatinya  menjadi sangat sedih, mengingat semua  kenangan semasa dia tinggal di  situ. Dia merasa sangat menyesal telah  bersikap jelak terhadap ayahnya.  Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang  menari-nari di matanya, dia  menelusuri semua barang dirumah itu. Dan  ketika dia membuka brankas  ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas  yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan  airmata berlinang, dia lalu  memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka  halamannya. Di halaman  pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan  tangan ayahnya,  "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling  bermanfaat bagi orang  lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada  di dunia ini"  Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang   Kitab Suci itu. Dia memungutnya,.... sebuah kunci mobil ! Di gantungan   kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport   yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan   menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya   tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat  sehari sebelum hari wisuda itu. Dia  berlari menuju garasi, dan di sana  dia menemukan sebuah mobil yang  berlapiskan debu selama bertahun-tahun,  meskipun mobil itu sudah sangat  kotor karena tidak disentuh  bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas  mobil itu, mobil sport yang  dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus  debu  pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu  masih  baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas  dashboardnya  ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.  Mendadak dia  menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak   terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin   diobati........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="background-color: #741b47; color: white;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Seberapa mahal dan berharganya kita pernah kehilangan barang, namun tak semenyesal jika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai  (Sebelum kita meminta maaf  padanya)...&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-9096193955530307109?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/9096193955530307109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/09/penyesalan-hadiah-sang-ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/9096193955530307109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/9096193955530307109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/09/penyesalan-hadiah-sang-ayah.html' title='Penyesalan (hadiah sang Ayah)'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-4202824585636740336</id><published>2011-09-17T05:21:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T05:21:00.975-07:00</updated><title type='text'>Rio dan July</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Reo dan July adalah  sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya  berasal dari keluarga  yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July  berasal dari  keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan  keluarga Reo  hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan   kehidupannya pada tanah sewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan mereka  berdua,  Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung  kertas  untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas   tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah   menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo   ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama   lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita   mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah   disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu   hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat   dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan   burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo   berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam   burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan   antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera   menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan   sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendengar  Reo  berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “Reo,  senang  sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah  memutuskan  untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan  kekayaan seperti  kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak  disambar geledek. Ia  kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July  matre, orang tak  berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo  meninggalkan July  menangis seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reo mulai  terbakar semangatnya. Ia pun  bertekad dalam dirinya bahwa ia harus  sukses dan hidup berhasil. Sikap  July dijadikannya cambuk untuk maju  dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo  menunjukkan hasilnya. Ia diangkat  menjadi kepala cabang di mana ia  bekerja dan dalam setahun ia telah  diangkat menjadi manajer sebuah  perusahaan yang bonafide dan tak lama  kemudian ia mempunyai 50% saham  dari perusahaan itu. Sekarang tak  seorangpun tak kenal Reo, ia adalah  bintang kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  hari Reo pun berkeliling kota dengan  mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya  sepasang suami-istri tua tengah  berjalan di dalam derasnya hujan.  Suami istri itu kelihatan lusuh dan  tidak terawat. Reo pun penasaran  dan mendekati suami istri itu dengan  mobilnya dan ia mendapati bahwa  suami istri itu adalah orang tua July.  Reo mulai berpikir untuk memberi  pelajaran kepada kedua orang itu,  tetapi hati nuraninya melarangnya  sangat kuat. Reo membatalkan niatnya  dan ia membuntuti kemana perginya  orang tua July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reo sangat  terkejut ketika didapati orang  tua July memasuki sebuah makam yang  dipenuhi dengan burung kertas. Ia  pun semakin terkejut ketika ia  mendapati foto July dalam makam itu. Reo  pun bergegas turun dari  mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk  menemui orang tua July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang  tua July pun berkata kepada  Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin.  Harta kami habis untuk biaya  pengobatan July yang terkena kanker rahim  ganas. July menitipkan  sebuahsuratkepada kami untuk diberikan kepadamu  jika kami bertemu  denganmu.” Orang tua July menyerahkan  sepucuksuratkumal kepada Reo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reo  membacasuratitu. “Reo, maafkan  aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku  terkena kanker rahim ganas yang tak  mungkin disembuhkan. Aku tak  mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena  jika itu aku lakukan, aku  akan membuatmu jatuh dalam kehidupan  sentimentil yang penuh  keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada  kehancuran. Aku tahu semua  tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku   mencintaimuReo................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July “   Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap   July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July   teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak   berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam   kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan   kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebihmemilih   untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan.July  telahberkorban  untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan  kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: #741b47; color: white; text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;Cinta  bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan  untuk orang yang sangat berarti bagi kita.﻿&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-4202824585636740336?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/4202824585636740336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/09/rio-dan-july.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/4202824585636740336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/4202824585636740336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/09/rio-dan-july.html' title='Rio dan July'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-4576423984662608052</id><published>2011-08-01T18:27:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T18:27:34.517-07:00</updated><title type='text'>Pengemis Kaya</title><content type='html'>Di Lorong sempit di tengah kota nampak 2 pengemis sedang asyik ngobrol.&lt;br /&gt;Pengemis 1: “seharian kita mengemis, kok ya ga bisa buat beli mobil ya ?  eh…ngomongin soal orang kaya, gue ini sebenarnya keturunan orang kaya,  harta peninggalan keluarga kami nggak akan habis dimakan tujuh  keturunan!”.&lt;br /&gt;Pengemis 2: “Lha trus kenapa elo jadi kere dan ngemis kaya gini?”.&lt;br /&gt;Pengemis 1: “Gue keturunan kedelapan…hiks..hiks”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-4576423984662608052?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/4576423984662608052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/pengemis-kaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/4576423984662608052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/4576423984662608052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/pengemis-kaya.html' title='Pengemis Kaya'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-482699578915895215</id><published>2011-08-01T18:15:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T18:15:04.791-07:00</updated><title type='text'>Penjual vs. Pembeli</title><content type='html'>Pembeli : Bang, ada kue ijo?&lt;br /&gt;Penjual : Gak jual kue ijo..&lt;br /&gt;(Besoknya orang itu datang lgi)&lt;br /&gt;Pembeli : ada kue ijo bang.?&lt;br /&gt;Penjual : kgak ada.!!!&lt;br /&gt;(Bsoknya orang itu datang lgi)&lt;br /&gt;Pembeli : kue ijo nya ada bang.??&lt;br /&gt;Penjual : kgak ada.!! besok lo tanya kue ijo lgi gwa iket trus gw paku lo.!&lt;br /&gt;(Orang itu mikir sebntar,manggut2 trs pulang,tapi besoknya dateng lagi)&lt;br /&gt;Pembeli : bang,ada tali.?&lt;br /&gt;Penjual : nah gtu dong nanya yg laen..tpi gw ga’ada tali..&lt;br /&gt;Pembeli : ada paku bang,?&lt;br /&gt;Penjual : gak ada juga..&lt;br /&gt;Pembeli : oh syukurlah…bang ada kue ijo..??&lt;br /&gt;Penjual nya langsung putus asa dan kapok jualan kue..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-482699578915895215?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/482699578915895215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/penjual-vs-pembeli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/482699578915895215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/482699578915895215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/penjual-vs-pembeli.html' title='Penjual vs. Pembeli'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-8782409837495612439</id><published>2011-08-01T18:09:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T18:09:00.193-07:00</updated><title type='text'>Manusia Kanibal</title><content type='html'>Disuatu perkampungan ada seorang kannibal (orang yang suka makan&lt;br /&gt;orang ), dia sangat sering memakan orang …lain, dan dia sangat buas  sekali. Suatu hari ada seorang pengusaha yang sedih melihat kelakuan&lt;br /&gt;mereka. Lalu pengusaha kaya tersebut menyekolahkan mereka, dengan  harapan nggak akan makan orang lagi. Setelah satu tahun diadakanlah  jumpa pers dengan kannibal, lalu salah seorang wartawan bertanya,&lt;br /&gt;“Hei kannibal bagaimana apakah ada perubahan setelah kamu disekolahkan  disini”. Lalu kannibal menjawab tenang, “O..tentu ada, setelah kami  disekolahkan disini saya kalau makan orang pakai GARPU.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-8782409837495612439?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/8782409837495612439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/manusia-kanibal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/8782409837495612439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/8782409837495612439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/manusia-kanibal.html' title='Manusia Kanibal'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-6045486300939556383</id><published>2011-08-01T17:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T17:58:57.921-07:00</updated><title type='text'>GT - Man</title><content type='html'>Para superhero sedang berkumpul dan saling menyombongkan diri mereka.&lt;br /&gt;Superman: “Aku bisa keluar penjara, karena jeruji besi itu bisa meleleh dengan sinar laser mataku”.&lt;br /&gt;Hulk: “Aku bisa keluar penjara hanya dengan jari keliking aku bisa merobohkan pintu penjara”.&lt;br /&gt;Invisebel man: “Kalau aku bisa keluar penjara dengan mengubah diriku menjadi tidak kelihatan”.&lt;br /&gt;Kemudian muncul super hero lain yg menamakan diri GT-man.&lt;br /&gt;GT-man: “Kalian semua masih kalah dengan aku..aku bisa keluar penjara  tanpa merusak pintu penjara, dan tanpa menghilang, bahkan sipir penjara  tidak bereaksi ketika melihat aku”&lt;br /&gt;Superhero: “Hebat, Salut..dari mana asalmu”.&lt;br /&gt;GT-man: ” Indonesia..namaku GT-man…Gayus Tambunan Man..”&lt;br /&gt;Superhero : “Lalu pake apa kamu bisa keluar dari penjara ?…”&lt;br /&gt;GT-man : “Pake wig ama kacamata doank..^_^&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://tiaraantik.com/"&gt;http://tiaraantik.com/ &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-6045486300939556383?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/6045486300939556383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/gt-man.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/6045486300939556383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/6045486300939556383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/08/gt-man.html' title='GT - Man'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-1083472316968834895</id><published>2011-07-30T04:08:00.000-07:00</published><updated>2011-07-30T04:08:06.498-07:00</updated><title type='text'>Rumah berhantu</title><content type='html'>“MAMAA!!”&lt;br /&gt;Arsha berlari ketakutan menuju dapur, dan hampir saja  menumpahkan adonan kue yang dibawa mamanya. Digenggamnya lengan mama  erat-erat.&lt;br /&gt;”Arsha?! Kenapa kamu? Apa-apaan ini?!” ujar mama, terkejut. &lt;br /&gt;”Di kamar ada hantu! Ada hantu!” jerit Arsha sambil menuding ke belakang. &lt;br /&gt;Mama mendesah. ”Sha, itu pasti ulah kakakmu lagi!”&lt;br /&gt;”Bukan! Hantunya melayang di langit!” kata Arsha. ”Kak Hari ’kan nggak bisa terbang, Ma!”&lt;br /&gt;Di  sela-sela itu, tiba-tiba terdengar suara tawa kencang. Siapa lagi kalau  bukan Hari. Anak nakal itu datang ke dapur sambil menutup mulutnya yang  terbuka lebar-lebar. &lt;br /&gt;”Hahahaha..!! Percobaan ’Kafan Terbang’-ku akhirnya berhasil!”&lt;br /&gt;Arsha memandang kakaknya dengan cemberut.&lt;br /&gt;”Tuh  ’kan? Apa kata Mama? Sifat kakakmu itu pasti kumat lagi,” kata mama  sambil melepaskan genggaman Arsha dan menyimpan adonan kue-nya di atas  meja. Sementara itu Hari masih tertawa-tawa.&lt;br /&gt;”Kak Hari jahat!!”  bentak Arsha sambil berlari masuk ke kamarnya. Dibantingnya pintu  keras-keras. Hari terdiam, lalu tertawa lagi.&lt;br /&gt;”Huh–sampai kapan  kamu mau begitu terus, Har? Sebentar lagi ujian nasional, ’kan? Daripada  ngurusin hantu-mu itu, lebih baik belajar!” tegur mama yang sedang  mengaduk-aduk adonan kue. Tapi Hari bersikap tak acuh, dan masuk ke  kamarnya sambil terus cekikikan.&lt;br /&gt;Hari adalah anak nakal yang  sangat menyukai segala hal yang berbau horor. Dari poster sampai pensil,  semuanya bergambar hantu. Hari suka berhalusinasi membayangkan suasana  berhantu, dan dibuatnya menjadi seolah nyata. Buku cerita-nya pun  semuanya tentang hantu. Ada Frankestein, Vampir, Drakula, Medusa, Mumi,  Zombie, Werewolf, Alien, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;Lampu neon di  kamarnya berwarna hijau dan di dindingnya dituliskan ’HAUNTED’. Hari  menuliskannya besar-besar dengan glitter ’glow in the dark’–sehingga  jika lampu dimatikan, tulisan itu akan menyala dan tampak menyeramkan.&lt;br /&gt;Bukan  hanya itu, di pintu kamarnya pun ditulis ’Hati-Hati, yang Masuk Akan  Dihantui’, sehingga Arsha selalu enggan masuk ke dalamnya. Apalagi jika  pintu dibuka, tengkorak melayang akan tiba-tiba muncul di depan mata!&lt;br /&gt;Berbeda  dengan kakaknya, Arsha adalah gadis pintar yang baik hati. Walau masih  kelas dua SD, ia sangat suka kerapihan. Kamarnya bernuansa pink, dengan  bermacam-macam Barbie dipajang di lemari kaca-nya. Siapapun akan betah  tinggal di kamar Arsha karena begitu cerah dan bersih. Ia  sangat  membenci hantu.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;”Sampai kapan sih kamu mau berkelumet  dengan hantu?” tanya Anto. Siang itu ia dan Hari pulang bersama, karena  rumah mereka memang berdekatan. Dan siang itu juga Hari menceritakan  tentang ’Kafan Terbang’-nya. ”Kasihan adikmu, dari dulu kamu kerjai  terus,”&lt;br /&gt;”Huuh! Pertanyaan mu itu sama dengan pertanyaan mama-ku setiap hari!” keluh Hari. &lt;br /&gt;”Lho–bukannya  gitu, aku cuma’ mau ngasih tau kok. Lagi pula sebentar lagi ’kan UAN?  Kamu mau masuk SMP favorit atau nggak, sih?” &lt;br /&gt;”Mau, lah!” &lt;br /&gt;”Kalau gitu kamu harus ninggalin semua tentang hantu, dan ganti sama buku pelajaran!” kata Anto.&lt;br /&gt;”Ya nggak bisa dong! Kamu tau ’kan hantu itu...”&lt;br /&gt;”Terus kalau nem-mu kecil bagaimana? Masa depanmu bisa hancur, Har!“ potong Anto.&lt;br /&gt;”Tenang aja,” ujar Hari. ”Aku mau masuk SMP favorit lewat jalur prestasi,”&lt;br /&gt;”Hah? Memang kamu punya prestasi?” &lt;br /&gt;”Punya, dong. Aku akan membuat eksperimen ’Frankestein Go To School’. Pasti akan terkenal dan dipajang di museum...”&lt;br /&gt;Anto  mengangkat bahunya. Temannya itu memang aneh. Waktu itu ia bilang akan  membuat eksperimen ’Medusa with Her Bee-Hair’, terus ’Vampire Can’t   Jump'. Huh, ada-ada saja!&lt;br /&gt;Mereka lalu berpisah di depan rumah Hari. &lt;br /&gt;”Dadah, Hari!” sahut Anto. Hari melotot dan menatap dingin temannya itu.&lt;br /&gt;”Daaah...Jangan  lupa, kamu berhutang darah padaku....” kata Hari dengan suara  direndahkan, kemudian tertawa terbahak-bahak. Anto hanya  menggeleng-geleng melihatnya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Rumah besar itu tampak  sepi saat Hari masuk ke dalamnya. Sebenarnya Hari sudah mengucapkan  salam berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Didorongnya gagang  pintu–ternyata sama sekali tak dikunci. Ada apa ini? Biasanya mama  selalu mengunci pintu? Pikir Hari, heran.&lt;br /&gt;Hari masuk ke kamar dan  membanting tasnya di kasur. Ia lalu berjalan ke dapur dan membuka lemari  es. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Hari  terkejut, lalu perlahan-lahan menolehkan kepalanya. Ternyata tak ada  siapa-siapa. Hari bernafas lega. Ayo, Har, untuk apa kamu takut sama  langkah kaki? Nggak masuk akal! Batinnya.&lt;br /&gt;Ia berjalan pelan lalu  membuka tutup panci di atas kompor. Isinya sop buntut–makanan kesukaan  Hari. Ia tersenyum, dan mengguyur nasi di piringnya dengan sop. Setelah  itu Hari berjalan dan duduk di kursi meja makan. &lt;br /&gt;Belum saja  menyuap sendok pertamanya, suara langkah kaki terdengar lagi. Hari  terdiam. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri pintu dapur, lalu  membukanya. Hari membayangkan, mama nya yang datang.&lt;br /&gt;”Siapa itu?!” teriak Hari panik. Ternyata di ruang tengah tak ada apa-apa, namun langkah kaki itu masih terdengar. &lt;br /&gt;”Mama?”&lt;br /&gt;Tap..Tap..Tap..&lt;br /&gt;”Apakah itu mama?”&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada tangan hangat meraba bahunya...&lt;br /&gt;”AAAAA!!!” Hari menjerit kaget, lalu berpaling ke belakang. &lt;br /&gt;”Mama?!”&lt;br /&gt;Di  belakangnya, mama tertawa geli. ”Ha ha ha...katanya Gila Horor?  Dipegang bahunya aja kok langsung teriak?” usik mama. ”Kamu bukan  penakut, kan?”&lt;br /&gt;Hari mendesah kesal. ”Huh–habis, pergi kok nggak bilang-bilang? Aku jadi kaget!”&lt;br /&gt;”Tadi  mama dari rumah tetangga. Sengaja mama nggak kunci pintu, takutnya kamu  pulang. Eh, pas mama pulang, pintu depannya terkunci. Jadi mama lewat  pintu belakang yang nembus ke dapur,” jelas mama sambil tersenyum jahil.  Hari terbengong-bengong.&lt;br /&gt;”Dikunci? Aku nggak ngunci pintu kok!”  kata Hari. ”Malahan, sebelumnya juga ada suara langkah kaki di ruang  tengah. Aku kira itu suara mama!” kini giliran mama yang  terbengong-bengong.&lt;br /&gt;”Ha ha ha, jangan nakut-nakutin. Mama ’kan  bukan adikmu!” ujar mama tersenyum, lalu berjalan menaiki tangga. ”Mama  mau istirahat dulu. O ya, Arsha hari ini nginep di rumah nenek, katanya  bosan diganggu kamu terus,”&lt;br /&gt;Setelah makan dan mandi, Hari pergi  tiduran ke kamarnya, dan melupakan apa yang terjadi hari itu. Sebelumnya  ia periksa apakah pintu depan terkunci atau tidak. Ternyata terkunci!  Hari bingung dibuatnya. Jangan-jangan ada hantu iseng? Ah, biar saja.  Aku ’kan tidak takut hantu. Pikirnya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Hari terpekik  kaget saat bangun dari tidurnya. Di atas kepalanya ada kepala buntung  digantung semacam tali tambang. Betapa kagetnya ia!&lt;br /&gt;”Sialan–ini  pasti kerjaan Arsha!” umpat Hari. Semula ia kira kepala buntung itu  milik Arsha. Tapi ternyata miliknya sendiri yang sudah hilang  bertahun-tahun! Siapa yang menemukan kepala buntung jelek itu?&lt;br /&gt;Tidak  tahu kenapa saat itu Hari nampak ketakutan. Ia merasa dikejar-kejar  hantu. Dilihatnya jendela besar di kamarnya, dan di luar hujan deras  turun diiringi petir. Suasana bertambah tegang. Buru-buru diambilnya CD  horor kesukaannya.&lt;br /&gt;”Nonton Ghost Ship, The Mummy Return, atau A  Haunted House, ya?” pikirnya. Akhirnya ia memilih Ghost Ship. Supaya  lebih mencekam, dimatikannya lampu. Hanya sedikit cahaya yang masuk  lewat jendela.&lt;br /&gt;Tiba-tiba sesuatu yang benar-benar mengejutkan  terjadi. Saat lampu dipadamkan, tulisan yang seharusnya ’HAUNTED’  berubah menjadi ’Absolutely True HAUNTED’! Hari sangat kaget.  ’Benar-Benar Berhantu’? siapa yang menulis semua ini?                                   &lt;br /&gt;”Kamarku ini mungkin didatangi hantu sungguhan...” gumam Hari. ”Ah–tapi aku tidak takut! Hantu ’kan kesukaanku,”&lt;br /&gt;Ia  melihat sekelilingnya dengan waspada, dan mencoba menghilangkan rasa  takut. Lukisan dan poster hantu di sana seperti hidup. Mata drakula  menyala merah, dan rambut ular Medusa terlihat bergerak-gerak. Hari  berjalan mundur, dan mencari sakelar lampu. Dalam sekejap suasana  berubah kembali seperti semula. Dimatikan TV-nya, dan baru menyadari  waktu menunjukkan pukul sembilan malam! Aku tidur tujuh jam?! Lama  sekali! Batin Hari, tak percaya.&lt;br /&gt;Hari bermaksud pergi ke kamar mama-nya. Namun ketika pintu kamar Hari dibuka, ada kertas kecil menggantung. Ia membacanya : &lt;br /&gt;’Sekarang kau yang akan dihantui’. &lt;br /&gt;Jantung  Hari serasa copot. Ia sambar kertas itu dan merobeknya, lalu berlari ke  kamar mama. ”Mama!” seru Hari sambil membuka pintu. ”Mama! Aku diteror  han...”&lt;br /&gt;Namun kamar mama sama sekali kosong. Kasur dan selimutnya  terlipat rapi. Lampu tidur menyala, sementara tirai masih terbuka lebar.  Akhirnya ia buka pintu kamar papa–dan di sana pun tak ada siapa-siapa!&lt;br /&gt;Aneh!  Kemana mereka pergi? Biasanya jam delapan papa sudah pulang! Pikir  Hari. Ia sangat panik. Jantungnya berdegup kencang dan cepat. Tiba-tiba  terdengar sesuatu diketuk-ketuk. Hari menoleh ke belakang, namun tak ada  apapun di sana. Dan saat ia melihat jendela kamar mama, ada sesuatu  yang berwarna putih melintas...&lt;br /&gt;”A...A..han..HANTUU..!!” &lt;br /&gt;Hari  berlari terbirit-birit menuruni tangga. Disambarnya payung. Ia harus  pergi ke rumah Anto. Harus. Tapi apa yang terjadi–pintu depan terkunci!&lt;br /&gt;Hari  mencari kunci itu di bawah keset, namun tetap tidak ada. Akhirnya ia  pergi ke dapur dan membuka pintu belakang. Namun sia-sia–pintu belakang  juga terkunci! &lt;br /&gt;Hari mencoba menenangkan diri. Tapi tak lama  kemudian terdengar suara pintu depan dibuka, lalu disusul tapakan kaki.  Bulu kuduk Hari berdiri. Disambarnya stik golf yang ada di sudut pintu.  Hari berjalan ke pintu dapur, mengangkat stiknya, dan siap-siap  menghajar ’seseorang’ itu. &lt;br /&gt;Suara kaki itu makin mendekat... dan Hari sudah benar-benar siap. &lt;br /&gt;Tiba-tiba...&lt;br /&gt;Klik!&lt;br /&gt;Lampu ruang tengah menyala. Hari terkejut. Saat ditengokkan kepalanya, ternyata...&lt;br /&gt;”ARSHA?!”&lt;br /&gt;Di  depannya, Arsha tertawa terbahak-bahak dengan jas hujan-nya yang basah.  ”Kena kau! Ha ha ha...!! Bagaimana? Kakak senang ’kan bisa melihat  hantu sungguhan? Kakak senang ’kan dihantui?”&lt;br /&gt;Hari menggeram kesal. ”Huh! Cukup main-mainnya! Kau keterlaluan! Akan kulaporkan nanti ke mama!!”&lt;br /&gt;”Percuma, mama tidak akan percaya!” kata Arsha. ”Sekarang tau ’kan gimana rasanya ditakut-takuti? Ya, kan? Ya, kan? Ha ha ha...”&lt;br /&gt;Hari  yang benar-benar marah, terpaksa mendengarkan penjelasan Arsha panjang  lebar. Ternyata Arsha berbohong tentang menginap di rumah nenek. Ia  malah sembunyi di luar–dan saat Hari masuk ke rumah ketika pulang  sekolah, Arsha-lah yang mengunci pintu–dengan kunci duplikat–dan membuat  suara tapakan kaki. &lt;br /&gt;Ia memasang kepala buntung, menulis kata  ’Absolutely True..’ dan ’Sekarang kau yang akan dihantui’ di saat Hari  tertidur. Dia juga mengubah waktu jam dinding menjadi pukul sembilan  malam. Padahal saat itu masih pukul lima sore! &lt;br /&gt;”Saat kakak tidur,  hujan lebat sudah turun. Akhirnya aku dapat ide untuk mengubah waktu  jam di kamar kakak, karena meski masih sore, keadaan di luar seperti  malam hari,” ujar Arsha sambil tersenyum puas. &lt;br /&gt;”Dan aku tak  sengaja menemukan kepala buntung kakak di gudang dua hari yang lalu.  Pasti kakak terkejut! Untunglah sore ini mama dan papa mendapat undangan  untuk acara Open House Perpustakaan Kota, kakak tidak ingat? Mereka  pergi saat kakak tidur. Haaah–akhirnya aku bisa nakut-nakuti kakak  juga!”&lt;br /&gt;Hari hanya bisa mencibir. Dalam hati ia sudah merasa kapok.  ”Jadi kau yang membuat hantu putih terbang melintas di jendela, dan  suara sesuatu yang diketuk-ketuk? Huh–pintar sekali kamu!”&lt;br /&gt;Arsha bengong. ”Hantu putih? Aku tidak tahu! Dan bukan aku yang mengetuk-ngetuk sesuatu,”&lt;br /&gt;Kini bulu kuduk mereka berdiri. Suasana menjadi&lt;br /&gt;hening. ”Terus siapa, dong?”&lt;br /&gt;Tiba-tiba...&lt;br /&gt;Terdengar lagi suara sesuatu diketuk-ketuk…&lt;br /&gt;’Tok..Tok..Tok...’&lt;br /&gt;Arsha dan Hari saling berpandangan. &lt;br /&gt;”AAAAAA...!!!!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-1083472316968834895?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/1083472316968834895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/07/rumah-berhantu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/1083472316968834895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/1083472316968834895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/07/rumah-berhantu.html' title='Rumah berhantu'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-595584551720222965.post-6085899212832262818</id><published>2011-07-30T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-30T03:18:05.210-07:00</updated><title type='text'>Tragedi Cinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selvi  memandang dari jendela kamar dan melamun berharap pelangi muncul  setelah hujan lebat. Dari arah jendela Selvi melihat seorang pria  berteduh di depan rumahnya. Ia masih memperhatikan pria itu dengan  sebuah tas gitar yang ia lindungi lebih berharga darinya. Akhirnya  hatinya ibah dan keluar dari rumah dengan sebuah payung. Ia mendekati  pria itu dan membuka pintu gerbang. “Masuk yuk, daripada kehujanan.”  tawar Selvi. “Yakin ga’ papa!!” ujar pria itu sopan. “Serius. Di rumah  ini aku tinggal sendiri. Ayo!!!”. Pria itu memarkirkan motornya di  halaman rumah Selvi yang sederhana. Kemudian Selvi mengajaknya duduk  teras rumahnya. Selvi mengambilkan sebuah handuk kering untuk  mengeringkan sisa-sisa hujan untuk pria itu..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun  pria itu lebih memilih membersihkan gitarnya daripada dirinya. Selvi  hanya tersenyum memperhatikan tingkah pria berkulit putih dan bermata  sipit tersebut. “Kok gitarnya dulu yang di keringkan. Bukannya kamu??”  “Iya ga’ papa. Ini nyawa pertamaku. Jadi penting juga!” “Emang gitar itu  buat apa??” “Saya Thomas. Saya seorang gitaris band amatiran namanya  Superband.” “Wah pantesan. Dengar-dengar seorang pemusik menganggap alat  musik sebagai nyawanya. Aku pikir tadinya cuma rumor dan ternyata  benar!” “Hehe. Gitulah. .. Emang kamu bisa main alat musik juga?” “Hm..”  Selvi terdiam menatap gitar pria tersebut. “Sedikit bisa main piano,  dulu sempat les tapi sekarang udah bodoh kali, tapi kalau gitar emang  ga’ bisa. Pengen belajar tapi ga’ ada waktu, sibuk untuk kuliah.” “Oo  gitu… Emangnya kamu kuliah dimana?” “STIKOM dekat sini. Bukan asli dari  kota ini. Rumah ini kontrak, Jangan heran kalau aku tinggal sendiri di  rumah ini!” “Hahaha,, gitu…!”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selvi menawarkan secangkir teh  hangat kepada pria itu. Thomas tersanjung dengan kebaikan gadis itu.  Hujan mulai reda. Thomas segera ke café tempat ia bekerja dan pamit  kepada Selvi. Selvi senang berkenalan dengan pria itu. “Terima kasih  tempat buat aku berteduh, jasa kamu pasti aku balas kelak” “Idih…  Pemusik emang romantis kata-katanya. Hmm… bagaimana kalau kamu ajarin  aku main gitar!!” “Benar… dengan senang hati aku mau ajarin kamu. Kalau  aku sempat pasti aku ajarin kamu.” “Baiklah kalau begitu!”. Perkenalan  itu menjadi awal kedekatan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thomas benar-benar menemui  Selvi untuk mengajarkan Selvi bermain gitar dari nol hingga mulai  menarik petikan nada dari gitar klasik yang dipinjamkan oleh Thomas.  Selvi mulai menyukai musik sejak itu. Ia selalu menantikan guru les  gitar barunya tersebut setiap kesempatan waktu yang ada. Setelah latihan  beberapa kali, Thomas juga melihat sebuah potensi besar dari suara yang  dimiliki oleh Selvi. Kebetulan vocalis di bandnya memutuskan mundur  untuk mencari peluang kerja yang lebih baik. Selvi sempat ragu. Namun  karena dorongan yang diberikan Thomas membuat ia berani menyatakan  dirinya bersedia. Ternyata, pilihan Thomas kepada Selvi tidak salah.  Band mereka mulai banyak menarik minat café-café untuk memberikan porsi  konser kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selvi mulai giat menjadi vocalis dan  membuat kuliahnya terbengkalai. Ada hal lain yang ia sembunyikan dalam  kebersamaan bandnya. Ia mulai jatuh cinta pada Thomas. Namun Thomas  selalu menegaskan kepada seluruh tim untuk menggapai cita-cita mereka  dahulu menjadi band sukses ketimpang mengurusi urusan pribadi mereka  termasuk cinta. Kebesaran nama band mereka belum cukup untuk membuat  band tersebut masuk dalam dapur rekaman. Beberapa kali di tolak oleh  pengusaha rekaman da membuat Thomas putus asa. Disaat itulah Selvi  selalu memberi dorongan. Cinta antara mereka tak dapat disembunyikan.  Sejak itu mereka menjadi sepasang kekasih. Seiring mimpi mereka menjadi  band sukses, diikuti  kisah cinta mereka yang begitu indah. Mereka  mengubah nama bandnya menjadi APPLE. Dengan tambahan dua orang yang  awalnya hanya bertiga. Kini mereka berjumlah lima orang termasuk Selvi,  Thomas, Gerry, Nita dan Hendra. Dua anggota baru adalah dua bersaudara  Nita dan Hendra yang mempunyai kemampuan biola (Nita) dan piano  (Hendra). Mereka menginginkan band mereka sukses dan saat itu juga ada  audisi konser di kota mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gerry dan Thomas adalah sahabat  dekat yang selalu bersama sejak kecil. Namun Gerry memiliki kebiasaan  buruk sehingga memiliki beberapa musuh yang selalu datang untuk  mengajaknya berkelahi. Ketika itu Gerri berdebat dengan salah satu  anggota band yang terlihat iri dengan kesuksesan band Apple.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selvi  mulai mahir menciptakan lagu dengan gitar. Ia mulai sering bolos  kuliah. Ia rela melakukan semua itu demi cita-cita dan mimpinya bersama  sang kekasih. Hubungan mereka begitu dekat dan sulit untuk dipisahkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Band  merekan tiba untuk melakukan audisi dan lolos ke final yang bersaing  dengan band yang saat itu membuat keributan dengan Gerry. Mereka telah  siap di hari final dan saat itu Selvi sedang ujian di kuliahnya. Ia  memutuskan berangkat sendiri dengan taksi menuju tempat audisi setelah  ujian usai. Sedangkan Thomas dan Gerry pergi bersama begitu juga Nita  dan Hendra. Sesampai disana Selvi, Nita dan Hendra menunggu Thomas dan  Gerry. Sedangkan band mereka sebentar lagi audisi. Selvi menghubungi  Thomas dan Gerry namun tak dapat di hubungi. Mereka mulai cemas dan  akhirnya Gerri menghubungi Selvi. Gerry mengatakan kalau mereka ada  suatu urusan dan menyuruh Selvi untuk melakukan audisinya bertiga.  Sekarang mereka bertiga berjuang untuk band mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Audisi  berakhir dan Selvi membawa keberhasilan. Selvi menghubungi Gerry.  “Gerry, kita juara. Kita bisa jadi band dapur rekaman.” “Selamat ya.  Sel, Thomas kritis. Dia dirawat di rumah sakit. Ayo, cepatan ke sini.”  “Kamu ga’ bercandakan Ger?” “Ngga’, cepatan kesini.” Selvi mulai cemas  dan gelisah. Sesampai di rumah sakit ia menemui Gerry dengan luka di  kepalanya. Di UGD dia melihat Thomas terbaring dengan alat bantu  pernafasan. Ia menerobos ruang itu dan berteriak keras. Suster dan  dokter memisahkan gadis itu. Selvi bertanya kepada Gerry. “Kenapa bisa  begini?” “Maafkan aku Sel. Ini salah aku. Andai aku tidak buat  keributan, dia tak akan seperti ini. Dia tertusuk pisau saat dia  menolong aku dari perkelahian itu.” Kemudian dokter keluar dari ruang  UGD dan mengatakan pasien telah meninggal. Selvi menerobos pintu UGD dan  berteriak sekeras-kerasnya. “Thom, jangan tinggalkan aku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cinta  mereka berakhir sebagai kenangan. Selvi tak bisa melupakan kenangan  mereka berdua. Ia melihat gitar yang diberikan Thomas sebagai bagian  hidup Thomas yang tersisa. Selvi memetik gitar dan akhirnya menciptakan  sebuah lagu yang indah. Kemudian Selvi mempunyai semangat untuk  bernyanyi. Saat itu band mereka menyanyikan lagu yang dibuat Selvi.  Selvi mulai membuka kata-kata terakhirnya, “Lagu ini aku persembahkan  untuk orang yang ku cintai yang telah pergi untuk selamanya.” Seorang  pengusaha jatuh cinta pada lagu itu dan membuat band mereka sukses. Usai  konser Selvi pulang karena kelelahan. Saat teman-temannya datang ke  rumah Selvi mereka menemui Selvi dengan tetesan darah dan selembar lirik  lagu untuk persembahan terakhir hidupnya. Lagu tersebut kemudian sukses  dan menyisakan pilu yang amat dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;sumber : &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.studentmagz.com/"&gt;http://www.studentmagz.com/&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/595584551720222965-6085899212832262818?l=mylittleshortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/feeds/6085899212832262818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/07/tragedi-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/6085899212832262818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/595584551720222965/posts/default/6085899212832262818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mylittleshortstory.blogspot.com/2011/07/tragedi-cinta.html' title='Tragedi Cinta'/><author><name>_Short Story_</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01928366684811642467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
